Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

KONSULTASI PICKY EATERS: Dok, Anak Saya Sulit Makan dan Berat Badannya Tidak Naik, Apakah Masih Normal atau Sudah Termasuk Gangguan Makan?

 

Pertanyaan

Dok, anak saya berusia 3 tahun sangat sulit makan sejak usia 1 tahun. Setiap kali waktu makan, ia hanya mau makan 2 sampai 3 suap lalu menolak, bahkan sering menangis atau memuntahkan makanan. Ia lebih suka minum susu dibanding makan nasi, lauk, sayur, atau buah. Berat badannya hampir tidak bertambah selama enam bulan terakhir sehingga terlihat lebih kecil dibanding teman seusianya. Kami sudah mencoba memberikan vitamin penambah nafsu makan, mengganti berbagai merek susu, hingga membujuk dan memaksa makan, tetapi hasilnya tidak banyak berubah. Apakah kondisi ini masih termasuk normal atau sudah merupakan gangguan makan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut?

Jawaban

  • Kesulitan makan merupakan salah satu keluhan yang paling sering disampaikan orang tua saat membawa anak ke dokter. Pada sebagian anak, perilaku pilih-pilih makanan merupakan bagian dari perkembangan normal, terutama pada usia 1 sampai 5 tahun ketika laju pertumbuhan mulai melambat. Namun, bila kesulitan makan berlangsung berbulan-bulan, menyebabkan berat badan tidak naik, tinggi badan mulai tertinggal, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut tidak lagi dapat dianggap sebagai fase biasa. Anak memerlukan evaluasi untuk mencari penyebab yang mendasarinya.
  • Dokter akan menilai apakah anak mengalami picky eater biasa atau sudah termasuk gangguan makan yang lebih serius seperti Pediatric Feeding Disorder (PFD). Pada picky eater, anak masih mampu mengonsumsi berbagai kelompok makanan meskipun pilih-pilih. Sebaliknya, pada PFD anak mengalami gangguan makan yang berdampak terhadap status gizi, pertumbuhan, kemampuan makan, atau kondisi psikososial keluarga. Anak dapat menolak banyak jenis makanan, hanya mau makanan dengan tekstur tertentu, atau mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.
  • Gangguan berat badan sering kali bukan disebabkan oleh kurang makan saja. Dokter juga akan mempertimbangkan adanya penyakit yang membuat anak kehilangan nafsu makan atau sulit menyerap nutrisi. Penyebab tersebut dapat berupa alergi makanan, penyakit saluran cerna, refluks asam lambung, sembelit kronis, infeksi berulang, anemia, gangguan metabolik, maupun kelainan hormonal. Pada beberapa anak, gangguan sensorik terhadap rasa, aroma, atau tekstur makanan juga dapat menjadi penyebab utama.
  • Riwayat pertumbuhan menjadi bagian penting dalam penilaian. Dokter akan melihat grafik berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh berdasarkan kurva pertumbuhan. Berat badan yang datar selama beberapa bulan, penurunan persentil pertumbuhan, atau berat badan di bawah standar usia merupakan tanda bahwa anak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, dokter akan menanyakan pola makan harian, jumlah susu yang diminum, kebiasaan ngemil, lama waktu makan, riwayat muntah, diare, sembelit, batuk berulang, pilek kronis, gangguan tidur, serta riwayat alergi pada anak maupun keluarga.
  • Pemeriksaan laboratorium tidak selalu diperlukan pada semua anak sulit makan. Pemeriksaan dilakukan bila terdapat indikasi tertentu berdasarkan hasil wawancara dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan dapat meliputi darah lengkap, status besi, fungsi tiroid, pemeriksaan infeksi, atau evaluasi alergi sesuai gejala. Pada sebagian kasus, anak mungkin memerlukan evaluasi oleh dokter anak konsultan nutrisi, gastroenterologi, alergi imunologi, atau tim terapi makan bila ditemukan gangguan makan yang kompleks.
  • Penanganan bergantung pada penyebabnya. Bila masalah utamanya adalah kebiasaan makan, terapi difokuskan pada pengaturan jadwal makan, membatasi konsumsi susu berlebihan, menciptakan suasana makan yang menyenangkan, dan menghindari pemaksaan makan. Bila ditemukan penyakit yang mendasari, terapi harus diarahkan pada penyebab tersebut. Memberikan vitamin, suplemen, atau mengganti susu saja umumnya tidak akan memberikan hasil yang optimal bila akar masalah belum diatasi.
  • Orang tua sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter bila anak mengalami berat badan tidak naik selama dua sampai tiga bulan, berat badan justru turun, hanya mau beberapa jenis makanan, sering tersedak saat makan, muntah berulang, diare atau sembelit kronis, tampak lemas, atau mulai mengalami keterlambatan pertumbuhan. Penanganan sejak dini memberikan peluang lebih besar untuk memperbaiki pola makan, status gizi, serta pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *