Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Gangguan Makan pada Anak: Definisi, Klasifikasi, Penyebab, Diagnosis, dan Tata Laksana Berbasis Bukti

Gangguan Makan pada Anak: Definisi, Klasifikasi, Penyebab, Diagnosis, dan Tata Laksana Berbasis Bukti

Widodo Judarwanto, Sandiaz Yudhasmara

Abstrak

Gangguan makan pada anak (feeding disorders) merupakan masalah yang sering dijumpai dalam praktik pediatri dan dapat memengaruhi pertumbuhan, status gizi, perkembangan neurologis, serta kualitas hidup anak dan keluarganya. Diperkirakan sekitar 20–35% anak dengan perkembangan normal mengalami kesulitan makan, sedangkan prevalensinya meningkat hingga 80% pada anak dengan penyakit kronis atau gangguan perkembangan. Spektrum gangguan makan meliputi feeding difficulties, Pediatric Feeding Disorder (PFD), Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), disfagia, gangguan makan akibat penyakit organik, dan gangguan makan sensorik atau perilaku. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep Pediatric Feeding Disorder (PFD) menjadi pendekatan yang paling komprehensif karena menilai gangguan makan berdasarkan empat domain, yaitu medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial. Pendekatan multidisiplin diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari sehingga tata laksana dapat dilakukan secara tepat.

Kata kunci: gangguan makan anak, feeding difficulties, Pediatric Feeding Disorder, ARFID, disfagia, alergi makanan.


Pendahuluan

Gangguan makan merupakan salah satu keluhan tersering yang disampaikan orang tua kepada dokter anak. Keluhan tersebut meliputi anak sulit makan, hanya mau makanan tertentu, makan sangat lama, menolak makanan baru, muntah saat makan, hingga gagal tumbuh. Walaupun sebagian besar merupakan variasi normal perkembangan, sebagian lainnya merupakan manifestasi penyakit medis yang memerlukan evaluasi menyeluruh.

Paradigma mengenai gangguan makan telah berkembang dari sekadar masalah perilaku menjadi suatu kondisi multidimensional yang melibatkan faktor biologis, neurologis, nutrisi, perkembangan oral-motor, serta faktor psikososial. Oleh karena itu, evaluasi anak dengan gangguan makan harus dilakukan secara komprehensif untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari dan mencegah komplikasi jangka panjang.


Definisi

Gangguan makan pada anak adalah kondisi yang ditandai oleh gangguan kemampuan, perilaku, atau pola makan sehingga kebutuhan energi dan zat gizi tidak terpenuhi secara adekuat. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan fisik, perkembangan neurologis, status gizi, fungsi imun, serta kualitas hidup anak. Spektrum gangguan makan pada anak sangat luas, mulai dari kesulitan makan ringan yang sering dijumpai pada usia balita hingga gangguan makan yang kompleks dan menetap seperti Pediatric Feeding Disorder (PFD) dan Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Gangguan ini dapat terjadi pada bayi, anak, maupun remaja dengan manifestasi yang berbeda sesuai usia dan kondisi klinis.

Gangguan makan dapat bersifat sementara atau kronis, dengan derajat keparahan yang bervariasi dari ringan hingga berat. Penyebabnya sering kali bersifat multifaktorial, melibatkan faktor organik seperti penyakit saluran cerna, alergi makanan, gangguan neurologis, kelainan oral motor, atau penyakit kronis, serta faktor nonorganik seperti gangguan perilaku, sensitivitas sensorik, kecemasan, pengalaman makan yang tidak menyenangkan, pola pengasuhan, dan faktor psikososial. Oleh karena itu, evaluasi gangguan makan harus dilakukan secara menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari sehingga penatalaksanaan dapat disesuaikan dengan kondisi setiap anak.


Epidemiologi

Gangguan makan merupakan masalah yang sering dijumpai pada praktik pediatri dan memiliki spektrum yang luas, mulai dari kesulitan makan ringan hingga gangguan makan yang memerlukan penanganan intensif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20 hingga 35% anak sehat mengalami feeding difficulties selama masa bayi dan balita. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan berkaitan dengan fase perkembangan normal, seperti penolakan terhadap makanan baru atau preferensi terhadap jenis makanan tertentu. Namun, pada sebagian anak, gangguan tersebut menetap dan berdampak terhadap asupan nutrisi, pertumbuhan, serta aktivitas sehari-hari.

Prevalensi gangguan makan meningkat secara bermakna pada anak dengan kondisi medis atau gangguan perkembangan. Pada kelompok ini, angka kejadian dapat mencapai 80%, terutama pada anak dengan autism spectrum disorder, cerebral palsy, kelainan neuromuskular, penyakit jantung bawaan, penyakit kronis saluran cerna, serta kondisi yang memengaruhi kemampuan mengunyah dan menelan. Bayi prematur juga memiliki risiko lebih tinggi akibat imaturitas fungsi oral motor, pengalaman makan yang terbatas pada awal kehidupan, dan tingginya kebutuhan nutrisi untuk mengejar pertumbuhan.

Meskipun sebagian besar kesulitan makan bersifat ringan, sekitar 3 hingga 10% anak mengalami gangguan makan yang cukup berat sehingga memerlukan evaluasi dan penatalaksanaan multidisiplin. Kelompok ini umumnya menunjukkan gangguan pertumbuhan, defisiensi zat gizi, ketergantungan pada suplemen nutrisi, atau gangguan fungsi psikososial yang bermakna. Faktor risiko yang sering berhubungan dengan gangguan makan berat meliputi prematuritas, penyakit neurologis, kelainan kongenital, alergi makanan, gangguan gastrointestinal kronis, serta gangguan perkembangan. Identifikasi dini terhadap faktor-faktor tersebut penting untuk mencegah terjadinya malnutrisi, faltering weight, stunting, dan komplikasi jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.

 


Klasifikasi Gangguan Makan

Tabel 1. Klasifikasi Gangguan Makan pada Anak

Jenis Gangguan Definisi Karakteristik Klinis Penyebab atau Faktor yang Berperan Dampak Klinis Contoh
Feeding Difficulties Kesulitan makan ringan yang sering dijumpai pada anak dengan atau tanpa penyakit penyerta dan umumnya belum memenuhi kriteria PFD atau ARFID. Picky eater, food neophobia, makan lebih dari 30 menit, nafsu makan rendah, mudah terdistraksi saat makan, hanya menyukai makanan tertentu. Faktor perkembangan, pola asuh makan, temperamen anak, kebiasaan makan keluarga. Sebagian besar pertumbuhan tetap normal, tetapi dapat menimbulkan stres pada orang tua dan risiko gangguan makan menetap bila tidak ditangani. Picky eater, selective eater, food jags.
Pediatric Feeding Disorder (PFD) Gangguan asupan oral yang tidak sesuai usia disertai gangguan pada satu atau lebih domain medis, nutrisi, keterampilan makan, atau psikososial. Penolakan makan menetap, gangguan pertumbuhan, disfagia, ketergantungan suplemen atau nutrisi enteral, konflik saat makan. Penyakit medis, gangguan oral-motor, gangguan neurologis, faktor perilaku, gangguan sensorik, masalah psikososial. Malnutrisi, faltering weight, stunting, defisiensi mikronutrien, gangguan perkembangan dan kualitas hidup. Anak dengan alergi makanan disertai gagal tumbuh, cerebral palsy dengan disfagia.
Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) Gangguan makan akibat pembatasan asupan makanan yang menyebabkan gangguan nutrisi atau fungsi psikososial tanpa adanya gangguan citra tubuh atau keinginan menurunkan berat badan. Hanya menerima sedikit jenis makanan, takut makan karena pengalaman tersedak atau muntah, sensitif terhadap tekstur, cepat kenyang, tidak tertarik makan. Hipersensitivitas sensorik, pengalaman makan traumatik, gangguan kecemasan, autism spectrum disorder, ADHD. Penurunan berat badan, defisiensi nutrisi, ketergantungan suplemen, gangguan fungsi sosial. Anak yang hanya mau mengonsumsi beberapa jenis makanan selama bertahun-tahun.
Disfagia Gangguan proses mengunyah atau menelan yang menghambat masuknya makanan dan cairan secara aman ke saluran cerna. Batuk saat makan, tersedak, aspirasi, pneumonia berulang, waktu makan sangat lama, drooling. Kelainan neurologis, gangguan neuromuskular, kelainan anatomis, penyakit esofagus. Aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, infeksi paru berulang. Cerebral palsy, kelumpuhan saraf kranialis, kelainan laring.
Gangguan makan akibat penyakit organik Gangguan makan yang disebabkan oleh penyakit medis yang menimbulkan nyeri, mual, disfagia, atau ketidaknyamanan saat makan. Menolak makan, muntah berulang, nyeri saat menelan, cepat kenyang, gangguan pertumbuhan. Alergi makanan, GERD, esofagitis eosinofilik, penyakit celiac, penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronis, konstipasi kronis. Penurunan asupan nutrisi, gangguan pertumbuhan, komplikasi penyakit yang mendasari. GERD, alergi makanan, eosinophilic esophagitis, penyakit celiac.
Gangguan makan akibat gangguan perilaku atau sensorik Gangguan makan yang didominasi oleh penolakan makanan karena karakteristik sensorik atau perilaku makan maladaptif. Menolak makanan berdasarkan tekstur, warna, suhu, bau, atau bentuk. Hanya menerima makanan dengan karakteristik tertentu. Gangguan pemrosesan sensorik, autism spectrum disorder, gangguan perkembangan, pengalaman makan yang negatif. Variasi makanan sangat terbatas, defisiensi mikronutrien, gangguan interaksi sosial saat makan. Anak dengan autism spectrum disorder yang hanya mau makanan bertekstur halus atau berwarna tertentu.
Gangguan oral-motor Gangguan kemampuan mengisap, mengunyah, atau memindahkan makanan di dalam rongga mulut. Sulit mengunyah, makanan sering keluar dari mulut, koordinasi mengunyah buruk, mudah lelah saat makan. Prematuritas, cerebral palsy, sindrom genetik, gangguan neuromuskular. Asupan makanan tidak adekuat, aspirasi, keterlambatan transisi tekstur makanan. Bayi prematur dengan keterlambatan kemampuan makan oral.

Klasifikasi ini menunjukkan bahwa gangguan makan pada anak merupakan spektrum kondisi yang luas, mulai dari feeding difficulties yang umumnya bersifat ringan hingga Pediatric Feeding Disorder yang melibatkan gangguan multidomain. Identifikasi jenis gangguan sangat penting karena menentukan pendekatan diagnosis, kebutuhan evaluasi multidisiplin, serta strategi penatalaksanaan yang paling sesuai untuk setiap anak.


Feeding Difficulties

Feeding difficulties merupakan bentuk gangguan makan yang paling sering dijumpai. Anak umumnya masih tumbuh normal tetapi mengalami kesulitan makan tertentu.

Manifestasi klinis meliputi:

  • picky eater,
  • food neophobia,
  • makan sangat lama,
  • nafsu makan rendah,
  • hanya mau makanan tertentu,
  • mudah terdistraksi saat makan.

Sebagian besar kasus membaik melalui edukasi perilaku makan dan tidak memerlukan terapi khusus.

Feeding difficulties merupakan bentuk gangguan makan yang paling sering ditemukan pada bayi dan anak, terutama pada usia 6 bulan hingga 6 tahun. Istilah ini mencakup berbagai kesulitan makan yang umumnya masih berada dalam spektrum perkembangan normal dan belum memenuhi kriteria Pediatric Feeding Disorder (PFD) maupun Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Sebagian besar anak dengan feeding difficulties tetap memiliki pertumbuhan yang baik, tetapi mengalami hambatan dalam proses makan yang dapat menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Apabila tidak ditangani dengan tepat, kesulitan makan yang menetap dapat berkembang menjadi gangguan makan yang lebih kompleks dan berdampak pada status gizi serta kualitas hidup anak.

Manifestasi klinis feeding difficulties sangat bervariasi. Gejala yang paling sering dijumpai meliputi picky eater, food neophobia atau penolakan terhadap makanan baru, nafsu makan yang rendah, makan berlangsung lebih dari 30 menit, hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu, serta mudah terdistraksi selama makan. Sebagian anak juga menunjukkan perilaku memilih makanan berdasarkan warna, tekstur, atau rasa tertentu. Meskipun gejala tersebut sering kali tidak disertai gangguan pertumbuhan, evaluasi tetap diperlukan untuk menyingkirkan penyebab medis seperti alergi makanan, penyakit gastroesofageal, konstipasi kronis, atau gangguan oral-motor yang dapat menimbulkan perilaku makan serupa.

Sebagian besar kasus feeding difficulties memiliki prognosis yang baik dan membaik seiring bertambahnya usia apabila ditangani dengan pendekatan perilaku makan yang tepat. Penatalaksanaan berfokus pada edukasi orang tua mengenai prinsip responsive feeding, penyusunan jadwal makan yang teratur, pemberian makanan sesuai tahap perkembangan, serta menghindari pemaksaan atau pemberian distraksi selama makan. Intervensi dini tidak hanya membantu meningkatkan variasi makanan dan kualitas asupan gizi, tetapi juga mencegah terbentuknya perilaku makan maladaptif yang dapat berkembang menjadi Pediatric Feeding Disorder pada kemudian hari.


Pediatric Feeding Disorder (PFD)

Pediatric Feeding Disorder (PFD) merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Goday PS dan kolega melalui konsensus multidisiplin pada tahun 2019 untuk memberikan definisi yang lebih komprehensif mengenai gangguan makan pada anak. PFD didefinisikan sebagai gangguan asupan oral yang tidak sesuai dengan usia dan berlangsung sedikitnya dua minggu, disertai disfungsi pada satu atau lebih dari empat domain utama, yaitu medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial. Definisi ini menekankan bahwa gangguan makan tidak hanya berkaitan dengan perilaku makan, tetapi juga merupakan hasil interaksi berbagai faktor biologis, perkembangan, dan lingkungan yang memengaruhi kemampuan anak memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Domain medis mencakup berbagai penyakit yang menyebabkan makan menjadi sulit atau tidak nyaman, seperti alergi makanan, gastroesophageal reflux disease (GERD), esofagitis eosinofilik, penyakit paru kronis, kelainan neurologis, maupun penyakit kronis lainnya. Domain nutrisi meliputi malnutrisi, faltering weight, gagal tumbuh, dehidrasi, serta defisiensi makro dan mikronutrien. Domain keterampilan makan mencakup gangguan mengisap, mengunyah, menelan, koordinasi oral-motor, dan disfagia. Sementara itu, domain psikososial meliputi penolakan makan, kecemasan saat makan, konflik antara anak dan pengasuh, perilaku makan maladaptif, serta keterbatasan partisipasi dalam aktivitas sosial yang melibatkan makan.

Pendekatan empat domain pada PFD memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk mengevaluasi setiap anak secara menyeluruh sehingga penyebab utama gangguan makan dapat diidentifikasi dengan lebih akurat. Seorang anak dapat mengalami gangguan pada satu domain saja atau kombinasi beberapa domain secara bersamaan. Sebagai contoh, alergi makanan yang tidak terdiagnosis dapat menimbulkan nyeri saat makan, diikuti penolakan makanan, keterbatasan variasi diet, defisiensi zat gizi, hingga konflik saat makan dengan orang tua. Oleh karena itu, penatalaksanaan PFD memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli gizi, psikolog, terapis wicara, dan terapis okupasi agar seluruh faktor yang berkontribusi dapat ditangani secara terpadu sesuai kebutuhan setiap anak.

Tabel 2. Empat Domain Pediatric Feeding Disorder

Domain Contoh Gangguan
Medis Alergi makanan, GERD, penyakit paru kronis
Nutrisi Malnutrisi, gagal tumbuh, defisiensi vitamin
Keterampilan makan Gangguan mengunyah, gangguan menelan
Psikososial Penolakan makan, konflik saat makan

Pendekatan ini memungkinkan identifikasi penyebab utama sehingga terapi dapat diarahkan secara spesifik.


Tabel 1. Penyebab Gangguan Makan pada Anak

Kategori Penyebab Mekanisme Gangguan Makan
Faktor medis Alergi makanan Nyeri, mual, muntah, atau ketidaknyamanan setelah makan sehingga anak menghindari makanan tertentu
Gastroesophageal reflux disease (GERD) Nyeri dan refluks menyebabkan anak menolak makan
Esofagitis eosinofilik Disfagia, nyeri menelan, dan impaksi makanan
Penyakit celiac Malabsorpsi, nyeri perut, dan penurunan nafsu makan
Konstipasi kronis Cepat kenyang, nyeri perut, dan penurunan nafsu makan
Penyakit jantung bawaan Mudah lelah saat makan dan kebutuhan energi meningkat
Penyakit paru kronis Sesak napas saat makan dan peningkatan kebutuhan kalori
Faktor neurologis Cerebral palsy Gangguan koordinasi mengunyah dan menelan
Gangguan neuromuskular Kelemahan otot oral dan disfagia
Gangguan oral-motor Kesulitan mengunyah, mengisap, atau menelan
Faktor perilaku Picky eater Selektivitas makanan tanpa gangguan medis yang jelas
Trauma saat makan Takut makan setelah tersedak, muntah, atau pengalaman tidak menyenangkan
Pemaksaan makan Menimbulkan penolakan makan dan perilaku negatif
Pola asuh makan yang kurang tepat Menghambat pembentukan perilaku makan yang sehat
Faktor sensorik Sensitif terhadap tekstur Menolak makanan dengan konsistensi tertentu
Sensitif terhadap bau Menghindari makanan dengan aroma tertentu
Sensitif terhadap warna atau tampilan makanan Hanya menerima makanan dengan karakteristik visual tertentu

Tabel 2. Manifestasi Klinis Gangguan Makan pada Anak

Kelompok Gejala Manifestasi Klinis
Gangguan perilaku makan Sulit makan, menolak makan, hanya mau makanan tertentu, makan sangat lambat atau lebih dari 30 menit
Gangguan menelan Batuk saat makan, tersedak, muntah saat makan, kesulitan mengunyah
Gangguan pertumbuhan Berat badan tidak naik, faltering weight, gagal tumbuh, stunting
Gangguan nutrisi Defisiensi zat besi, anemia, defisiensi vitamin dan mineral
Gangguan gastrointestinal Konstipasi kronis, nyeri perut, refluks, muntah berulang
Dampak psikososial Konflik saat makan, kecemasan orang tua, gangguan aktivitas sosial yang melibatkan makan

Tabel 3. Pendekatan Diagnosis Gangguan Makan pada Anak

Komponen Evaluasi Hal yang Dinilai
Anamnesis Riwayat pertumbuhan, pola makan, durasi makan, jenis makanan yang diterima, riwayat alergi, muntah, refluks, tersedak, penyakit kronis, perkembangan, dan interaksi orang tua dengan anak saat makan
Pemeriksaan fisik Berat badan, tinggi badan, status gizi, tanda defisiensi nutrisi, pemeriksaan rongga mulut, fungsi neurologis, kemampuan oral-motor, dan tanda penyakit sistemik
Penilaian nutrisi Asupan energi dan zat gizi, variasi makanan, food diary, serta evaluasi kebutuhan nutrisi
Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, uji alergi, endoskopi, videofluoroscopic swallow study (VFSS), fiberoptic endoscopic evaluation of swallowing (FEES), atau pemeriksaan radiologi sesuai kecurigaan klinis
Penilaian multidisiplin Evaluasi oleh dokter anak, ahli gizi, psikolog, terapis wicara, dan terapis okupasi bila diperlukan

Tabel 4. Penatalaksanaan Gangguan Makan Berdasarkan Penyebab

Penyebab Tujuan Penatalaksanaan Intervensi yang Direkomendasikan
Feeding difficulties Memperbaiki perilaku makan Edukasi orang tua, responsive feeding, jadwal makan teratur, pembatasan camilan dan minuman sebelum makan
Alergi makanan Menghilangkan gejala dan mempertahankan status gizi Eliminasi alergen berdasarkan diagnosis yang telah dikonfirmasi, pemantauan pertumbuhan, serta konseling nutrisi
GERD Mengurangi refluks dan nyeri saat makan Modifikasi pola makan, terapi farmakologis sesuai indikasi, dan tata laksana penyebab yang mendasari
Disfagia Meningkatkan keamanan proses menelan Terapi menelan oleh speech-language therapist, modifikasi tekstur makanan, serta latihan oral-motor
Gangguan sensorik Meningkatkan toleransi terhadap berbagai jenis makanan Terapi okupasi, desensitisasi sensorik bertahap, dan paparan makanan secara berulang
Pediatric Feeding Disorder (PFD) Memperbaiki status gizi, kemampuan makan, dan fungsi psikososial Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli gizi, psikolog, terapis wicara, dan terapis okupasi

Tabel 5. Prognosis Gangguan Makan pada Anak

Kondisi Prognosis
Feeding difficulties ringan Sebagian besar membaik seiring bertambahnya usia dengan edukasi dan pola makan yang tepat
Picky eater tanpa gangguan pertumbuhan Umumnya memiliki prognosis baik apabila dilakukan intervensi perilaku sejak dini
Gangguan makan akibat penyakit medis Prognosis bergantung pada keberhasilan tata laksana penyakit yang mendasari
Pediatric Feeding Disorder (PFD) Memerlukan terapi jangka panjang dan pendekatan multidisiplin, tetapi luaran umumnya baik bila dikenali dan ditangani sejak dini
Kasus yang tidak ditangani Berisiko mengalami malnutrisi, faltering weight, stunting, defisiensi mikronutrien, gangguan perkembangan, gangguan fungsi oral, serta peningkatan beban psikososial pada anak dan keluarga

Prognosis

Sebagian besar feeding difficulties membaik seiring bertambahnya usia apabila ditangani dengan pola makan yang tepat. Sebaliknya, PFD yang tidak dikenali dapat menyebabkan malnutrisi, gangguan pertumbuhan, defisiensi mikronutrien, gangguan perkembangan, serta meningkatkan beban psikososial keluarga.


Kesimpulan

Gangguan makan pada anak merupakan spektrum kondisi yang luas, mulai dari feeding difficulties yang bersifat ringan hingga Pediatric Feeding Disorder (PFD) yang kompleks. Pendekatan modern menekankan evaluasi empat domain—medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial—sehingga penyebab utama dapat diidentifikasi dan ditangani secara komprehensif. Diagnosis dini dan tata laksana multidisiplin sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang, mengoptimalkan pertumbuhan, serta meningkatkan kualitas hidup anak dan keluarganya.

Referensi

  1. Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2019;68(1):124–129.
  2. Kerzner B, Milano K, MacLean WC Jr, et al. A Practical Approach to Classifying and Managing Feeding Difficulties. Pediatrics. 2015;135(2):344–353.
  3. Hill SA, et al. Feeding Difficulties in Children with Food Allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(4):e14119.
  4. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). 2022.
  5. Bryant-Waugh R. Avoidant Restrictive Food Intake Disorder: An Illustrative Case Example. Int J Eat Disord. 2013;46(5):420–423.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *