Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

KONSULTASI PICKY EATERS: Apakah Hasil Tes IgG yang Positif Berarti Anak Saya Yang Sulit Makan Pasti Alergi Makanan?

Apakah Hasil Tes IgG yang Positif Berarti Anak Saya Yang Sulit Makan Pasti Alergi Makanan?

Pertanyaan

“Dok, anak saya sekarang berusia 4 tahun. Sejak usia sekitar satu tahun, ia sering batuk pilek hampir setiap bulan. Beberapa kali dokter mengatakan anak saya mengalami asma sehingga harus menggunakan obat hirup ketika sesak. Selain itu, nafsu makannya sangat kurang, hanya mau beberapa jenis makanan, sering mengeluh mual saat makan, dan berat badannya sulit naik dibandingkan teman seusianya. Karena khawatir semua keluhan tersebut disebabkan oleh alergi makanan, saya membawa anak saya ke sebuah klinik yang menawarkan tes IgG makanan. Hasilnya menunjukkan lebih dari 20 jenis makanan dinyatakan positif, seperti susu sapi, telur, ayam, ikan, udang, gandum, kedelai, tomat, pisang, dan beberapa buah lainnya. Saya diminta menghentikan semua makanan tersebut dan menggantinya dengan makanan lain. Saya menjadi bingung karena hampir semua makanan yang biasa dimakan anak harus dipantang. Benarkah hasil tes IgG dapat memastikan bahwa anak saya mengalami alergi makanan? Apakah semua makanan yang hasilnya positif harus langsung dihindari?”

Jawaban,  dr Widodo Judarwanto, pediatrican

Jawabannya adalah tidak. Pemeriksaan IgG atau IgG4 terhadap makanan tidak dapat digunakan untuk memastikan seseorang mengalami alergi makanan. Hasil yang positif hanya menunjukkan bahwa tubuh pernah terpapar atau mengenali makanan tersebut. Bahkan, kadar IgG sering ditemukan lebih tinggi pada orang yang rutin mengonsumsi makanan itu tanpa mengalami reaksi alergi. Karena itu, hasil IgG positif tidak dapat membuktikan bahwa makanan tersebut menjadi penyebab keluhan anak.

Anak yang sering mengalami asma, batuk pilek berulang, sulit makan, atau berat badan sulit naik memang dapat memiliki penyakit alergi, tetapi bukan berarti semuanya disebabkan oleh alergi makanan. Asma lebih sering dipicu oleh alergen yang terhirup, seperti tungau debu rumah, bulu hewan, jamur, atau infeksi saluran napas. Batuk pilek berulang juga dapat dipengaruhi oleh paparan virus, lingkungan, atau rinitis alergi. Sementara itu, berat badan yang sulit naik dan gangguan makan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti feeding difficulties, refluks gastroesofageal, konstipasi, gangguan oral-motor, infeksi berulang, atau penyakit kronis lainnya. Oleh karena itu, penyebabnya harus dicari secara menyeluruh dan tidak boleh langsung dikaitkan dengan hasil tes IgG.

Berbagai organisasi alergi internasional memiliki pendapat yang sama mengenai pemeriksaan IgG. World Allergy Organization (WAO), American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA), serta Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI) tidak merekomendasikan pemeriksaan IgG untuk mendiagnosis alergi makanan. Pemeriksaan tersebut juga tidak boleh dijadikan dasar untuk menentukan makanan yang harus dipantang karena tidak dapat membedakan alergi dengan toleransi normal terhadap makanan.

Dokter akan menegakkan diagnosis alergi makanan berdasarkan riwayat klinis yang khas. Dokter akan menanyakan apakah setiap kali anak mengonsumsi makanan tertentu selalu muncul gejala yang sama, kapan gejala mulai muncul setelah makan, apakah disertai biduran, bengkak, muntah, diare, sesak, atau keluhan lain yang konsisten. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik dan evaluasi pertumbuhan. Bila memang ada indikasi, dokter dapat menambahkan pemeriksaan Skin Prick Test atau IgE spesifik. Kedua pemeriksaan tersebut hanya membantu diagnosis dan tidak dapat digunakan sebagai dasar tunggal untuk menyatakan seorang anak alergi makanan.

Apabila terdapat dugaan kuat terhadap makanan tertentu, dokter biasanya akan melakukan diet eliminasi yang terarah. Hanya makanan yang paling dicurigai dihentikan sementara sambil dipantau perubahan gejalanya. Menghindari puluhan jenis makanan hanya karena hasil tes IgG dapat menyebabkan anak kekurangan protein, energi, kalsium, zat besi, vitamin, dan mineral. Pada anak yang sudah sulit makan dan berat badannya sulit naik, pembatasan makanan yang berlebihan justru dapat memperburuk pertumbuhan dan status gizinya.

Bila gejala membaik setelah diet eliminasi, diagnosis masih belum dapat dipastikan. Pada kasus yang sesuai dan aman, dokter dapat melakukan Oral Food Challenge, yaitu pemberian kembali makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Sampai saat ini, Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi. Pendekatan ini membantu menghindari overdiagnosis sehingga anak tidak menjalani pantangan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Jadi, hasil tes IgG yang positif tidak berarti anak pasti mengalami alergi makanan. Diagnosis harus ditegakkan berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, evaluasi pertumbuhan, pemeriksaan penunjang yang sesuai indikasi, diet eliminasi yang terarah, dan konfirmasi dengan Oral Food Challenge bila diperlukan. Dengan pendekatan berbasis bukti, penyebab keluhan anak dapat diketahui secara lebih akurat sehingga terapi menjadi lebih tepat dan anak tetap memperoleh asupan gizi yang optimal.

Tabel. Peran Berbagai Pemeriksaan dalam Diagnosis Alergi Makanan

Pemeriksaan Apa yang Dinilai Dapat Memastikan Alergi? Rekomendasi
Riwayat klinis Hubungan antara makanan dan munculnya gejala Ya, merupakan dasar utama Direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA
Pemeriksaan fisik Manifestasi alergi, status gizi, dan kemungkinan penyakit lain Mendukung diagnosis Direkomendasikan
Skin Prick Test (SPT) Sensitisasi yang diperantarai IgE Tidak bila digunakan sendiri Direkomendasikan bila ada indikasi klinis
IgE spesifik Antibodi IgE terhadap makanan tertentu Tidak bila digunakan sendiri Direkomendasikan bila ada indikasi klinis
Diet eliminasi terarah Perubahan gejala setelah makanan dihentikan Membantu evaluasi Direkomendasikan pada kasus terpilih
Oral Food Challenge (OFC) Reaksi setelah makanan diberikan kembali di bawah pengawasan tenaga medis Ya, merupakan baku emas diagnosis Direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA
IgG atau IgG4 makanan Paparan atau toleransi terhadap makanan Tidak Tidak direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA, dan CSACI untuk diagnosis alergi makanan

Referensi

  • Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, Roberts G, Beyer K, Bindslev-Jensen C, Cardona V, Dubois AEJ, duToit G, Eigenmann P, Fernandez Rivas M, Halken S, Host A, Knol E, Lack G, Marchisotto MJ, Niggemann B, Nwaru BI, Papadopoulos NG, Poulsen LK, Santos AF, Skypala I, Schoepfer A, Van Ree R, Venter C, Worm M, Vlieg-Boerstra B, Panesar S, de Silva D, Soares-Weiser K, Sheikh A, EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines Group. **EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: Diagnosis and Management of Food Allergy.** Allergy. 2014;69(8):1008-1025. doi:10.1111/all.12429. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/all.12429
  • American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI). **The Myth of IgG Food Panel Testing.** AAAAI Patient Information. https://www.aaaai.org/tools-for-the-public/conditions-library/allergies/igg-food-test

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *