Anak Sering Muntah, Susah Makan, dan Berat Badannya Sulit Naik. Bagaimana Dokter Memastikan Itu Benar Alergi Makanan?
Pertanyaan
“Dok, anak saya sekarang berusia 10 bulan. Sejak mulai MPASI umur 6 bulan, ia masih sering gumoh, kadang muntah setelah makan, sembelit, dan pipinya sering merah seperti ruam. Belakangan ia juga jadi pilih-pilih makanan, hanya mau bubur yang halus, sering mengulum makanan, sulit mengunyah, makannya bisa lebih dari 30 menit, dan berat badannya susah naik. Ada yang bilang ini pasti alergi susu sapi. Ada juga yang menyuruh saya langsung melakukan tes alergi atau mengganti susu formula. Saya jadi bingung. Sebenarnya bagaimana dokter memastikan apakah anak saya benar-benar mengalami alergi makanan?”
Jawaban
Dokter tidak bisa langsung mengatakan seorang anak mengalami alergi makanan hanya karena melihat satu atau dua gejala. Muntah, gumoh, sembelit, ruam, susah makan, berat badan sulit naik, atau anak menjadi pilih-pilih makanan memang dapat terjadi pada alergi makanan. Namun, keluhan yang sama juga bisa disebabkan oleh refluks, konstipasi, infeksi saluran cerna, gangguan oral-motor, intoleransi makanan, atau masalah kesehatan lainnya. Karena itu, dokter harus melihat seluruh kondisi anak sebelum membuat diagnosis.
Langkah pertama adalah mendengarkan cerita orang tua secara lengkap. Dokter akan menanyakan sejak kapan keluhan muncul, makanan apa yang dimakan sebelum gejala timbul, apakah setiap kali makan makanan yang sama keluhannya selalu berulang, serta apakah ada gejala lain seperti diare, darah pada tinja, eksim, batuk, mengi, atau sesak. Riwayat yang lengkap sering kali lebih membantu dibandingkan hasil pemeriksaan laboratorium.
Selain itu, dokter akan memeriksa pertumbuhan dan perkembangan anak. Berat badan, panjang badan, dan kurva pertumbuhan akan dinilai. Dokter juga akan memperhatikan apakah anak mengalami feeding difficulties, misalnya hanya mau makanan tertentu, menolak makanan bertekstur, sering mengulum makanan, sulit mengunyah, atau makan sangat lama. Semua informasi ini membantu mencari penyebab utama keluhan.
Tabel berikut menggambarkan tahapan yang biasanya dilakukan dokter.
| Tahap Pemeriksaan | Tujuan |
|---|---|
| Wawancara riwayat penyakit | Mengetahui hubungan antara makanan dan munculnya gejala |
| Pemeriksaan fisik | Menilai kondisi umum dan mencari tanda alergi atau penyakit lain |
| Penilaian kurva pertumbuhan | Menilai apakah berat badan dan tinggi badan sesuai usia |
| Evaluasi kemampuan makan | Menilai adanya gangguan makan atau gangguan oral-motor |
| Pemeriksaan alergi bila diperlukan | Membantu pada kondisi tertentu, bukan untuk memastikan diagnosis |
| Diet eliminasi terarah | Menilai apakah gejala membaik setelah makanan tertentu dihentikan |
| Oral Food Challenge | Memastikan apakah makanan tersebut benar-benar menyebabkan alergi |
Banyak orang tua menganggap tes alergi adalah pemeriksaan yang paling menentukan. Padahal, hasil skin prick test maupun pemeriksaan IgE spesifik tidak selalu berarti anak benar-benar alergi. Hasil yang positif hanya menunjukkan bahwa tubuh mengenali protein makanan tersebut. Sebagian anak dengan hasil positif tetap dapat mengonsumsi makanan itu tanpa keluhan. Sebaliknya, pada alergi makanan non-IgE, hasil pemeriksaan dapat tetap normal walaupun anak memang mengalami alergi. Karena itu, hasil tes selalu harus disesuaikan dengan gejala dan hasil pemeriksaan dokter.
Bila dokter mencurigai alergi makanan, biasanya akan dilakukan diet eliminasi yang terarah. Hanya makanan yang paling dicurigai dihentikan sementara, bukan semua makanan sekaligus. Bila gejala membaik, diagnosis belum otomatis terbukti karena perbaikan dapat terjadi akibat faktor lain. Pada kondisi yang sesuai dan aman, dokter akan melakukan Oral Food Challenge, yaitu memberikan kembali makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Sampai saat ini, Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan apakah seorang anak benar-benar mengalami alergi makanan.
Kesalahan yang masih sering terjadi adalah anak langsung diberi label alergi makanan hanya berdasarkan dugaan, hasil tes IgE, atau cerita dari orang lain. Akibatnya, anak menjalani pantangan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan, mengganti susu formula tanpa indikasi yang jelas, semakin pilih-pilih makanan, mengalami gangguan oral-motor karena jarang berlatih mengunyah berbagai tekstur makanan, dan berat badannya tetap sulit naik akibat asupan gizinya kurang beragam. Oleh karena itu, diagnosis alergi makanan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan bukti, sehingga pengobatan yang diberikan benar-benar sesuai dengan penyebab keluhan anak.
| Pemeriksaan | Apa yang Dinilai | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|---|
| Riwayat penyakit dan gejala | Hubungan antara makanan dengan munculnya gejala, waktu munculnya reaksi, jenis gejala, dan kekambuhan | Merupakan langkah paling penting dalam diagnosis | Memerlukan informasi yang lengkap dari orang tua |
| Pemeriksaan fisik | Kondisi kulit, saluran napas, saluran cerna, status gizi, dan tanda penyakit lain | Membantu mencari penyebab selain alergi | Tidak dapat memastikan alergi makanan |
| Kurva pertumbuhan | Berat badan, panjang badan, dan faltering weight | Menilai dampak alergi terhadap pertumbuhan | Tidak menunjukkan penyebab secara langsung |
| Evaluasi feeding difficulties dan oral-motor | Kemampuan mengunyah, menelan, menerima tekstur, dan perilaku makan | Menentukan apakah diperlukan feeding therapy | Tidak menentukan jenis makanan penyebab |
| Skin Prick Test (SPT) | Sensitisasi terhadap alergen yang diperantarai IgE | Cepat, relatif sederhana, dan cukup sensitif untuk alergi IgE | Hasil positif tidak selalu berarti anak benar-benar alergi. Hasil normal tidak menyingkirkan alergi non-IgE |
| IgE spesifik (sIgE) | Kadar antibodi IgE terhadap makanan tertentu dalam darah | Berguna bila SPT tidak dapat dilakukan atau sebagai pemeriksaan tambahan | Tidak dapat memastikan alergi hanya berdasarkan hasil positif |
| Atopy Patch Test | Reaksi alergi tipe lambat pada sebagian kasus tertentu | Kadang digunakan pada penelitian atau kasus terpilih | Belum direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin karena akurasinya terbatas |
| Diet eliminasi terarah | Perubahan gejala setelah makanan yang dicurigai dihentikan | Membantu memperkuat dugaan alergi | Gejala yang membaik belum membuktikan alergi karena dapat dipengaruhi faktor lain |
| Oral Food Challenge (OFC) | Reaksi setelah makanan diberikan kembali secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis | Baku emas untuk memastikan diagnosis alergi makanan dan menghindari overdiagnosis | Harus dilakukan oleh tenaga medis terlatih dan tidak dilakukan pada semua pasien |
| Pemeriksaan IgG makanan | Kadar antibodi IgG terhadap makanan | Tidak memiliki peran dalam diagnosis alergi makanan | Tidak direkomendasikan oleh EAACI, WAO, AAAAI, maupun AAP karena tidak dapat mendiagnosis alergi makanan |








Leave a Reply