
Anak Saya Usia 12 Bulan Susah Makan dan Berat Badannya Sulit Naik. Apakah Penyebabnya Alergi Pencernaan?
Pertanyaan
Dok, anak saya sekarang usianya 12 bulan. Saya mulai benar-benar khawatir karena sampai sekarang makannya susah sekali. Setiap kali makan paling hanya beberapa suap, setelah itu langsung menutup mulut, memalingkan wajah, atau malah menangis. Dia lebih memilih minum susu daripada makan. Berat badannya juga sudah beberapa bulan sulit naik, padahal saya sudah mencoba berbagai cara, mulai dari mengganti menu setiap hari, memberi vitamin penambah nafsu makan, probiotik, susu tinggi kalori, sampai dibujuk saat makan. Selain susah makan, anak saya juga sering perut kembung, kadang muntah setelah makan, BAB sering keras dan harus mengejan, sesekali diare, tidurnya gelisah, dan pipinya sering merah seperti eksim. Saya membaca di internet bahwa gejala seperti ini bisa disebabkan oleh alergi pencernaan. Benarkah alergi pencernaan bisa membuat anak menjadi susah makan dan berat badannya sulit naik? Bagaimana cara memastikan penyebabnya, apakah cukup dengan tes alergi atau perlu pemeriksaan lain?
Jawaban, dr Widodo Judarwanto, pediatrican
Kesulitan makan pada anak usia 12 bulan memang sering dijumpai karena pada usia ini anak mulai mengembangkan kemandirian dan preferensi terhadap makanan tertentu. Namun, apabila disertai gangguan pertumbuhan, berat badan yang tidak bertambah sesuai kurva pertumbuhan, keluhan saluran cerna yang berulang, serta manifestasi penyakit alergi seperti eksim, kondisi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai picky eater yang normal. Menurut konsensus Pediatric Feeding Disorder (PFD), gangguan makan yang berdampak terhadap status gizi, pertumbuhan, kesehatan medis, atau perkembangan keterampilan makan memerlukan evaluasi medis yang komprehensif. Tujuannya bukan hanya meningkatkan nafsu makan, tetapi menemukan penyebab utama yang membuat anak menolak makan.
Salah satu penyebab yang perlu dipertimbangkan adalah alergi saluran cerna atau alergi pencernaan. Pada kondisi ini, makanan tertentu memicu reaksi sistem imun sehingga terjadi peradangan pada mukosa saluran cerna. Peradangan tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala seperti refluks yang menetap, muntah berulang, nyeri perut, perut kembung, konstipasi, diare, lendir atau darah pada tinja, serta rasa tidak nyaman setiap kali makan. Anak kemudian mulai menghubungkan makan dengan rasa nyeri atau tidak nyaman sehingga secara bertahap menolak makanan, hanya mau makanan tertentu, atau lebih memilih minum susu. Bila berlangsung lama, asupan energi dan zat gizi menjadi tidak mencukupi sehingga berat badan sulit naik dan pertumbuhan dapat terganggu.
Walaupun demikian, tidak semua anak yang susah makan dan mengalami gangguan pencernaan pasti menderita alergi makanan. Gejala yang serupa dapat dijumpai pada penyakit refluks gastroesofageal, intoleransi laktosa setelah infeksi, konstipasi kronis, penyakit celiac, eosinophilic gastrointestinal disorders, infeksi saluran cerna, defisiensi zat besi, gangguan oral motor, maupun kelainan perilaku makan. Bahkan konstipasi kronis sendiri dapat menyebabkan anak kehilangan nafsu makan karena usus yang penuh tinja membuat lambung lebih cepat terasa penuh. Oleh sebab itu, diagnosis tidak boleh hanya berdasarkan satu atau dua gejala, tetapi harus mempertimbangkan seluruh riwayat penyakit, pola pertumbuhan, perkembangan, dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
Pemeriksaan alergi seperti skin prick test atau IgE spesifik juga memiliki keterbatasan. Kedua pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi terhadap suatu makanan dan tidak selalu berarti makanan tersebut benar-benar menyebabkan gejala. Banyak anak memiliki hasil tes yang positif tetapi dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa masalah. Sebaliknya, pada alergi non-IgE yang sering menimbulkan keluhan saluran cerna, hasil skin prick test maupun IgE spesifik dapat tetap normal. Oleh karena itu, diagnosis alergi pencernaan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan hasil laboratorium. Dokter harus menggabungkan riwayat klinis, hubungan gejala dengan makanan tertentu, respons terhadap eliminasi makanan, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.
Baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab keluhan adalah Oral Food Challenge (OFC). Pada prosedur ini, makanan yang dicurigai diberikan kembali secara bertahap dengan dosis yang meningkat di bawah pengawasan tenaga medis yang terlatih. Bila gejala muncul kembali secara konsisten, diagnosis alergi makanan dapat ditegakkan. Sebaliknya, apabila anak dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa reaksi, maka alergi tidak terbukti atau anak telah mencapai toleransi. Penggunaan OFC sangat penting untuk menghindari overdiagnosis alergi makanan yang masih sering terjadi. Tanpa konfirmasi menggunakan pendekatan berbasis bukti, banyak anak menjalani pantangan makanan yang tidak diperlukan, mengalami keterbatasan variasi makanan, bahkan berisiko mengalami kekurangan zat gizi dan gangguan pertumbuhan.
Apabila penyebab utama berhasil diidentifikasi dan ditangani, perbaikan umumnya terjadi secara bertahap. Peradangan pada saluran cerna berkurang sehingga rasa tidak nyaman saat makan menghilang. Anak mulai lebih mudah menerima makanan baru, variasi makanan bertambah, kemampuan makan berkembang sesuai usia, dan berat badan kembali mengikuti kurva pertumbuhan yang diharapkan. Pada sebagian anak, terapi juga memerlukan pendampingan ahli gizi dan terapis makan apabila telah terbentuk Pediatric Feeding Disorder atau gangguan oral motor. Pendekatan multidisiplin memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan hanya memberikan vitamin penambah nafsu makan atau mengganti susu berulang kali tanpa mengetahui penyebabnya.
Pesan yang paling penting adalah jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa semua anak yang susah makan mengalami alergi pencernaan, tetapi juga jangan menganggap semua kasus hanyalah fase picky eater biasa. Anak usia 12 bulan yang mengalami kesulitan makan menetap, berat badan sulit naik, disertai gangguan saluran cerna atau penyakit alergi memerlukan evaluasi yang sistematis. Diagnosis yang akurat melalui riwayat klinis, pemeriksaan fisik, eliminasi makanan yang tepat, dan bila diperlukan Oral Food Challenge akan membantu menentukan apakah benar terdapat alergi makanan atau penyebab lain. Dengan terapi yang sesuai penyebab, sebagian besar anak dapat kembali makan dengan baik, memperoleh asupan gizi yang cukup, serta mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.








Leave a Reply