Review Jurnal: Feeding Difficulties pada Neonatus Usia <7 Hari yang Dirawat di Layanan Pediatri Akut Sebelum dan Selama Pandemi COVID-19
Berdasarkan:
Lee K, Dunne TF, Masoud M, et al. Early neonatal admissions with feeding difficulties to acute paediatric services at a tertiary paediatric hospital in England: sequential audits pre-COVID-19 and during the COVID-19 pandemic. BMJ Paediatrics Open. 2026;10(1):e003180.
1. Pendahuluan
Kesulitan menyusu (feeding difficulties) merupakan salah satu penyebab tersering bayi baru lahir dibawa ke fasilitas kesehatan. Pada minggu pertama kehidupan, bayi masih beradaptasi dengan proses menyusu, koordinasi mengisap-menelan-bernapas, serta pembentukan produksi ASI. Sebagian besar masalah menyusu sebenarnya bersifat fisiologis dan dapat diatasi melalui pendampingan laktasi yang tepat tanpa memerlukan perawatan di rumah sakit.
Namun demikian, feeding difficulties juga dapat menjadi manifestasi penyakit serius seperti sepsis neonatal, hipoglikemia, dehidrasi, hiperbilirubinemia, penyakit jantung bawaan, maupun gangguan neurologis. Oleh karena itu, tenaga kesehatan harus mampu membedakan bayi yang memerlukan rawat inap dengan bayi yang cukup mendapatkan dukungan menyusui di komunitas.
2. Latar Belakang Penelitian
Pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan besar pada pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Pembatasan kunjungan, berkurangnya layanan tatap muka, serta terbatasnya akses terhadap konselor laktasi diduga memengaruhi keberhasilan menyusui pada masa neonatal.
Lee dan kolega melakukan audit untuk mengevaluasi karakteristik bayi usia kurang dari tujuh hari yang dirawat di layanan pediatri akut di Alder Hey Children’s Hospital, Liverpool, Inggris, serta menentukan proporsi bayi dengan feeding difficulties yang sebenarnya berpotensi ditangani melalui layanan berbasis komunitas.
3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik neonatus berusia kurang dari tujuh hari yang dirawat karena feeding difficulties dan menilai apakah sebagian kasus sebenarnya dapat ditangani di luar rumah sakit melalui dukungan menyusui yang lebih baik.
4. Metode Penelitian
Penelitian menggunakan desain audit retrospektif berurutan (sequential retrospective audit) terhadap seluruh bayi usia kurang dari tujuh hari yang dirawat di unit pediatri akut.
Audit dilakukan pada dua periode:
– Maret–September 2019 (sebelum pandemi COVID-19).
– Maret–September 2020 (selama pandemi COVID-19).
Data diperoleh dari rekam medis elektronik yang telah dianonimkan. Semua bayi berasal dari rumah bersalin di wilayah Merseyside, Inggris.
5. Hasil Penelitian
5.1 Sebelum Pandemi COVID-19
Selama tahun 2019 terdapat 241 neonatus yang dirawat.
Sebanyak 93 bayi (38,6%) mengalami feeding difficulties.
Dari kelompok tersebut:
– 31,2% dirawat hanya karena feeding difficulties tanpa penyakit berat lainnya.
– 31,2% merupakan bayi yang mendapat ASI eksklusif.
Temuan ini menunjukkan bahwa cukup banyak bayi dirawat bukan karena penyakit berat, tetapi karena masalah menyusu.
5.2 Selama Pandemi COVID-19
Pada tahun 2020 jumlah rawat inap menurun menjadi 104 bayi.
Namun proporsi bayi dengan feeding difficulties justru meningkat menjadi 51% (54 bayi).
Di antara bayi tersebut:
– 54% dirawat hanya karena feeding difficulties.
– 53,7% merupakan bayi dengan ASI eksklusif.
Dengan kata lain, walaupun jumlah pasien menurun selama pandemi, proporsi kasus feeding difficulties meningkat secara bermakna.
6. Interpretasi Hasil
Peningkatan proporsi feeding difficulties selama pandemi kemungkinan dipengaruhi oleh menurunnya akses terhadap dukungan menyusui, konseling laktasi, serta kunjungan tenaga kesehatan di komunitas.
Banyak ibu baru kehilangan kesempatan memperoleh bantuan mengenai posisi menyusui, teknik pelekatan (latch), penilaian kecukupan ASI, maupun edukasi mengenai perilaku menyusu normal pada minggu pertama kehidupan.
Akibatnya, masalah yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui edukasi berkembang menjadi alasan rawat inap.
7. Implikasi Klinis
Penelitian ini memberikan beberapa pelajaran penting.
Pertama, feeding difficulties merupakan penyebab utama rawat inap neonatus pada minggu pertama kehidupan.
Kedua, sebagian besar bayi tidak menunjukkan tanda penyakit berat sehingga sebenarnya dapat ditangani melalui layanan komunitas apabila tersedia dukungan menyusui yang memadai.
Ketiga, rawat inap yang tidak diperlukan dapat meningkatkan risiko infeksi nosokomial, mengganggu keberlangsungan pemberian ASI eksklusif, meningkatkan kecemasan orang tua, serta menambah beban pelayanan kesehatan.
Keempat, dukungan menyusui harus dimulai sejak ruang bersalin, dilanjutkan dengan kunjungan rumah, klinik laktasi, dan akses cepat terhadap tenaga kesehatan terlatih apabila muncul masalah menyusu.
8. Relevansi terhadap Pediatric Feeding Disorder
Walaupun penelitian ini tidak secara khusus membahas Pediatric Feeding Disorder (PFD), hasilnya menunjukkan bahwa feeding difficulties pada neonatus perlu dievaluasi secara sistematis.
Setiap bayi dengan kesulitan menyusu harus dinilai kemungkinan adanya:
– gangguan medis (misalnya infeksi atau penyakit metabolik);
– gangguan nutrisi (dehidrasi, penurunan berat badan berlebihan);
– gangguan keterampilan oral-motor (mengisap, menelan, koordinasi napas);
– faktor psikososial, termasuk dukungan ibu menyusui dan akses terhadap konselor laktasi.
Pendekatan multidisiplin akan membantu menentukan apakah bayi membutuhkan rawat inap atau cukup mendapat intervensi di tingkat komunitas.
9. Kelebihan dan Keterbatasan Penelitian
Kelebihan penelitian ini adalah menggunakan data nyata dari praktik klinis dan membandingkan dua periode penting, yaitu sebelum dan selama pandemi COVID-19.
Namun, penelitian ini merupakan audit retrospektif di satu rumah sakit sehingga hasilnya mungkin tidak sepenuhnya mewakili populasi yang lebih luas. Selain itu, penelitian tidak mengevaluasi luaran jangka panjang bayi maupun efektivitas intervensi komunitas setelah pulang.
10. Kesimpulan
Audit ini menunjukkan bahwa sekitar sepertiga hingga lebih dari separuh neonatus usia kurang dari tujuh hari yang dirawat di layanan pediatri akut mengalami feeding difficulties, dan banyak di antaranya tidak memiliki penyakit berat lain yang memerlukan rawat inap. Pandemi COVID-19 memperlihatkan bagaimana berkurangnya dukungan menyusui di masyarakat dapat meningkatkan proporsi rawat inap akibat kesulitan menyusu. Oleh karena itu, penguatan layanan laktasi, edukasi orang tua, kunjungan neonatal berbasis komunitas, serta kolaborasi antara rumah sakit dan pelayanan primer merupakan strategi penting untuk menurunkan rawat inap yang sebenarnya dapat dicegah sekaligus meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Referensi
Lee K, Dunne TF, Masoud M, et al. Early neonatal admissions with feeding difficulties to acute paediatric services at a tertiary paediatric hospital in England: sequential audits pre-COVID-19 and during the COVID-19 pandemic. BMJ Paediatrics Open. 2026;10(1):e003180. doi:10.1136/bmjpo-2024-003180.






Leave a Reply